“ Ha..haa. haa”
Saya punya teman sering marah. Ada masalah sedikit langsung marah. Ada yang tidak sesuai dengan selera marah. Pendek kata, setiap ada masalah selalu merangsang kemarahan. Hal-hal yang sepelepun kadang menjadi biang kemarahan. Malah terkadang antara kemarahan dan penyebabnya sangat tidak proporsional.
“ Kenapa sering marah-marah, sih ? “ begitu tegur saya suatu saat
“ Habis ini anak-anak nggak pernah bener..,” jawabnya waktu itu. Terlihat sekali kekesalannya. Napasnyapun terlihat berburu cepat ( yang dimaksud anak-anak ini adalah anak buahnya ). Sementara seorang cewek yang dimarahi cuman diam membisu dan tertunduk.
“ Bikin surat saja nggak pernah bener, “ lanjutnya
“ Gimana mau naik gaji kalau begini ?! “
“ Perbaiki ! “
“ Jam satu harus sudah dimeja saya…” lanjutnya terasa mengancam sambil ngeloyor meninggalkan anak buahnya yang masih mematung.
“ Ya, Pak, “ sahut cewek itu lirih
Waktu saya singgah ke tempat teman saya masih terasa nuansa kemarahannya, meskipun kejadian itu sudah berlalu satu jam yang lalu. Terasa sekali… nggak tahu kenapa.?!
“ Kenapa masih marah ? “ tanya saya karena melihat ia menghentakan pesawat telepon dengan keras.
“ Tauk… ,” sahutnya ketus
“ Memang kalau marah, semuanya langsung selesai ? “
“ Nggak juga sih. Tapi ini kan memberikan pelajaran buat dia “
“ Apa nggak ada pembejaran dengan cara yang baik “
“ Maksud kamu apa ?”
Kurogoh saku celanaku. Sebungkus jisamsu kukeluarkan. Setelah kuambil sebatang dan kutawarkan kepadanya, kunikmati satu hisapan dan sangat melegakan.
“ Kalau dengan marah langsung dapat secara otomatis meyelesaikan masalah….”. “Artinya kondisi yang salah tiba-tiba pada saat yang bersamaan langsung jadi benar hanya karena adanya kemarahan. Seperti sulapan begitu. Abakadabra……Maka saya akan matian-matian marah setiap ada kesalahan.”
“ Tapi yang terjadi kan tidak demikian. “
“ Setiap masalah selalu diselesaikan dengan proses. Masih memakan waktu lagi. Kenapa mesti marah. Kasih tahu saja baik-baik.”
Temanku masih terdiam mendengar ocehanku. Sementara aku seperti mendapatkan angin segar untuk terus memberikan pengertian dan pencerahan. Gila, omongannya jadi serius nih.
“ Kalau kamu marah, apalagi sering marah, yang rugi kamu sendiri…!!!” Lanjutku lagi
“ Orang marah itu capek. Energinya terkuras. Tekanan darah semakin kencang. Untung tidak kebawa sampai ke rumah. Tapi itu tidak menutup kemungkinan. Kalau sampai ke bawa kan berabe. Untung pula tidak stroke kamu… Tapi sampai kapan kamu akan terus begini?”
“ Santai sajalah.. kerja ini kan main-main..”
“ Saran saya: Jangan sekali-sekali kamu marah. Tapi tidak boleh pula memendam marah. Kamu boleh marah, tapi tidak boleh emosi..”
“Gimana sanggup ?”
Teman saya ini masih diam saja. Nggak tahu dia benar-benar ndengerin saya atau malah bosan sebenarnya.
“ Tapi, ada beberapa hal yang terdapat pada orang yang lagi marah ”
“ Apa itu “
“Mata merah”
“Napas terburu”
“Detak jantung semakin keras”
“Tak terkendali….( mungkin )”
“ dan yang satu ini…yang dominant.”
“ Apa itu”
“ Jelek…
“ Maksudnya ?”
“Tidak ada orang marah cakep. Malah sebaliknya orang cantikpun, kalau marah jadi jelek. Jeleeekkkk sekallliiiiiiiii”
“ emang, kalau marah kamu lebih cakep ?”
“ Ha..haa. haa”
“ Ha..haa. haa”
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
2 cheese