logo

Istriku Pelabuhan Terakhirku

logo

Foto Malinda Dee 2Cerpen: BONDAN SUTEDJO

( Cerpen ini telah di publikasikan Mingguan FAJAR-Makassar, bulan Mei 2009 dengan Judul: Bisikan Istriku )

Deg ! Hatiku tersentak. Kaget. Tak percaya dengan apa yang barusan kudengar. Ucapan istriku seperti telah membekukan darahku. Hingga terasa dingin sekujur tubuhku. Mulutku terkunci. Tak tahu harus berkata apa.

Kuletakan kembali cangkir teh yang baru sedikit aku minum di atas meja. Kutatap wajah istriku dalam-dalam. Sekejab berbagai pertanyaan muncul dihatiku. Beragam perasaanpun berkecamuk.

“ Mama mimpi, ya?! “ kataku kemudian

“ Pagi-pagi gini sudah ngigau! “

“ Nggak ada omongan lain kah? “

Istriku tak segera menyahut. Ia beringsut dari tempat duduknya. Berjalan mendekatiku. Kemudian ia melingkarkan kedua tangannya – memelukku dari belakang seraya berbisik kepadaku.

“ Aku serius, pa.“

“ Aku ingin mewujudkan keinginan papa selama ini.”

“ Karena itu aku rela melakukan semua ini.”

Sambil bergeser ke depanku ia mencium pipi kananku. Masih dengan melingkarkan kedua tangannya di leherku ia duduk di pangkuanku. Ia terus memandangi wajahku. Senyumnya tersugging kecil. Seketika kesegaran merayapi seluruh hatiku. Aku jadi kembali merasakan suasana waktu pacaran dulu. Romantis sekali.

“ Kenapa kau lakukan ini, sayang ? “ tanyaku sambil membelai rambutnya yang sebatas bahu.

“ Aku kasihan sama papa, “ sahutnya pelan.

“ Kasihan ? Maksudnya ? “ dahiku mengernyit.

“ Minggu lalu waktu mama ke kantor, kulihat papa asyik main sama Vino, anaknya pak Toha. “

“ Hmm…”

“ Kulihat papa sangat menikmatinya.”

“ Lalu, apa hubungannya mama menyuruhku kawin lagi ?”

Istriku diam sejenak. Ia tak segera menanggapi pertanyaanku. Ia beralih ke tempat duduk di sebelahku. Dibuangnya pandangannya jauh-jauh keluar jendela. Nampak sekali ia menyimpan seseuatu yang saya sendiri tidak tahu. Setelah ditariknya napas dalam-dalam ia berkata lagi kepadaku

“ Aku dapat menyelami perasaan papa. Seperti ada kerinduan di hati papa akan hadirnya seorang anak dalam keluarga kita. Aku dapat rasakan ini dari bagaimana papa memandang dan memanjakan Vino. Sementara, sampai hari ini mama tidak bisa memenuhi keinginan papa…”

“ Mama…” sergahku.

“ Papa tidak pernah mempermasalahkan itu lagi. Papa sudah nyaman dengan kehidupan kita sekarang. “

“ Jadi, tidak usah diungkit-ungkit lagi,” kataku sambil memeluk erat istriku. Ada linangan air mata dari kami. Menetes. Membasahi pipi kami.

“ Tidak, pa !”

Aku kaget. Istriku melepaskan pelukanku. Ia berjalan ke arah jendela. Memandangi taman di pekarangan rumah kami. Bunga-bunga yang selama ini bergairah, nampak seperti redup. Ikut merasakan kesenduan hati kami.

“ Papa harus kawin lagi ! “ katanya lagi

“ Mama…” sahutku

“ Apa tidak ada cara lain ?”

“ Maksudnya..?”

“ Adopsi misalnya ”

“ Tidak, pa “

“ Mama tidak mau mengadopsi anak yang tidak jelas asal-usulnya. Tidak jelas keturunannya. Mama hanya mau mengurus anak asal anak itu anak papa….meskipun ibunya bukan mama…”

“ Oh..”

Aku terdiam. Kurebahkan diriku ke sofa. Rasanya pikiranku jadi buntu. Tidak tahu harus berpikir apa lagi. Sendi-sendi tulangkupun terasa kelu. Kupejamkan mataku dalam-dalam. Sekedar untuk menyegarkan diri. Relaksasi..

Jujur, memang apa yang dikatakan istriku benar. Aku sangat merindukan hadirnya seorang anak di keluargaku. Aku ingin ada tangisan bocah di rumahku. Seperti rumah teman-temanku. Sungguh aku sangat iri dengan pak Hendra yang sudah punya dua anak laki-laki dan perempuan. Padahal baru tiga tahun dia kawin. Juga aku cemburu pak Bakri. Baru tahun kemarin menikah, sekarang istrinya sudah hamil. Sementara aku ? Sepuluh tahun sudah kami menikah, tapi tidak ada tanda-tanda sedikitpun istriku hamil. Padahal berbagai upaya telah aku tempuh. Berbagai dokter telah aku kunjungi untuk konsultasi. Bahkan paranormalpun telah banyak aku datangi. Tapi sampai hari ini tetap saja tak ada hasilnya. Nihil.

Mungkinkah ini karma untukku ? Begitu kadang aku berpikir. Memang jauh sebelum menikah aku suka berpetualang. Aku suka mengencani berbagai perempuan. Tidak saja perempuan baik-baik, perempuan jalangpun aku sikat. Akibatnya aku pernah kena penyakit kotor dan menjijikan. Namun itu dulu. Sekarang aku sudah kapok. Sudah taubat.

Kadang terbersit juga dalam hatiku untuk mengikuti keinginan istriku. Kawin lagi untuk mendapatkan keturunan. Tapi rasanya aku tak sanggup melakukannya. Terus terang aku sangat mencintai istriku. Aku tak sanggup menduakannya. Aku yakin hal seperti ini akan menyakitinya. Meskipun ia sendiri secara terus terang menyuruhku, tapi aku tak yakin bahwa itu dilakukannya secara tulus dari lubuk hatinya yang dalam. Aku pikir ini hanya untuk menyenangkan hatiku. Sementara kurasa ia sedang mencoba bunuh diri dengan menghancurkan hatinya. Oh…

“ Tidak, papa !”

“ Mama sangat tulus. Sungguh !”

“ Papa jangan khawatir. Mama sadar melakukannya. Semua ini mama lakukan sebagai wujud pengabdian mama sama papa. Mama Ikhlas lahir batin. Dunia akhirat.”

Istriku memelukku erat. Sementara mulutku terkunci. Tenggorokanku seperti tersekat. Tak ada kata-kata lagi dari kami. Suasana jadi sunyi seperti mati. Kami tenggelam dalam kebisuan hati masing-masing.

“ Mama sudah plihkan calon untuk papa,” kata istriku lagi penuh yakin, seakan tahu isi hatiku bahwa aku pasti akan setuju dengan keinginannya.

“ Siapa ?” sahutku lirih

“ Mama yakin papa pasti setuju dengan pilihan mama.”

“ Siapa?”

“ Hesti.”

“ Hah..”

Hesti adalah teman istriku. Adik kelas waktu kuliah dulu katanya. Sudah lama mereka tidak bertemu sejak lulusan. Selama ini ia tinggal di Surabaya. Aku diperkenalkannya oleh istriku waktu ketemu di MTC. Seminggu lalu ia bertandang ke rumahku. Menginap dua hari.

Hesti masih gadis, begitu kata istriku. Ia anak yatim piatu Belum pernah kawin, meskipun umurnya telah menginjak 28 tahun. Secara physik, kuakui dia memang cantik. Tidak akan bikin malulah bila diajak kondangan pengantin. Tapi bila menilik diriku, masih pantaskah aku mengawininya. Sementara umurku hampir menginjak 50 tahun. Kalaupun pantas, masih sanggupkah aku melayani dirinya. Apalagi dengan kondisi kesehatanku yang ada sedikit kelainan jantung. Ah, aku jadi ragu dengan semua ini.

“ Mama sudah bicarakan semua ini sama Hesti.” Kata istriku meyakinkanku

“ Lalu?” sahutku

“ Dia setuju dengan rencana ini, pa “

“ Lalu?”

“ Senin depan ia akan datang.” Katanya lagi

“ Mama juga sudah bicarakan dengan penghulu di KUA.”

“ Saksi-saksi juga sudah mama hubungi.”

“ Siapa?”

“ Pak RT dan pengurus lainnya.”

“ Jadi?”

Enam bulan sudah kami hidup bersama. Kami tinggal bertiga dalam satu rumah di Perumahan Sasana Indah. Kehidupan kami rukun dan damai. Kurasakan hidup kami semakin bergairah. Seperti ada energi baru Kami saling mendukung dan membantu. Tidak ada kecemburuan diantara kami. Terus terang aku sangat berbahagia. Ternyata keraguanku tidak terbukti. Aku dapat melaksanakan semua tugasku dengan sempurna. Di kantorpun aku semakin bersemangat. Meskipun awalnya teman-teman selalu meledek, tapi lama-kelamaan jadi biasa saja.

Dalam kesempatan tugas kantor ke luar kota kadang aku mengajak mereka berdua. Bulan lalu kami ke Bunaken. Bulan depan aku akan mengajkanya ke Pulau Dewata. Pendeknya, kami inign menikmati kebahagiaan ini bersama. Satu hal yang menjadi tanda tanya dalam hatiku adalah sampai saat ini Hesti belum juga ada tanda-tanda hamil. Ah, sudahlah, yang penting kami bahagia.

“ Sampai kapan papa di Bandung ?” tanya istriku sambil melipat dan merapikan pakaianku di koper. Sore ini aku memang ada rencana tugas ke Bandung. Bersama pak Subchan aku menghadiri rapat evaluasi kinerja kantor.

“ Tiga hari.” jawabku

“ Jum’at papa sudah pulang.” Lanjutku memberi kepastian

“ Sudah siap, ma?” kataku lagi, memastikan kesiapan koperku

“ Sudah, pa.”

“ Berangkat sekarang?”

“ Ya.”

Kedua istriku mengantarkanku ke bandara. Aku sangat bangga dengan kerukunan mereka. Kadang aku sendiri tak percaya dengan perjalanan hidupku ini. Sungguh tak terbayangkan olehku, punya istri dua, tinggal satu rumah, rukun dan damai. Sungguh luar biasa pujiku dalam hati.

Kudengar hapeku berdering. Nampak nama pak Hidayat muncul dilayar.

“ Selamat sore, pak” salamku pada atasanku mengawali pembicaraan.

“ Pak Joe di mana nih ?”

“ Di Bandara, pak. Nunggu boarding.”

“ Pak Hidayat, tolong besok wakili saya sekalian ketemu pak Sasongko. Beliau mengajak kita rapat. Tapi saya tidak bisa hadir. Saya harus ke Bali untuk ketemu direksi. Bawa sekalian data-data penjualan bulan ini untuk konfirmasi. Bisa kan, pak Joe..?”

“ Baik, pak.”

Wah berantakan nih acara, kataku dalam hati. Tugas tambahan dari pak Hidayat ini membuatku bingung. Jelas data yang diminta belum aku persiapkan. Karena memang sebenarnya aku ke Bandung bukan untuk itu. Tapi tak mungkin juga aku menolaknya. Dia atasanku. Dia mempercayakannya kepadaku.

Kulihat arlojiku menunjuk pukul lima. Kupastikan ke petugas Lion Air boarding masih 45 menit lagi. Segera kutelepon istriku untuk mengantar berkas ke bandara. Tapi Tidak nyambung. Kutelepon Hesti. Nggak yambung juga. Kutelepon rumah. Nggak ada yang mengangkat. Ah, kemana mereka ?! Aku sedikit panik.

“ Pak Subchan, tolong bapak di sini dulu, ya,” pintaku pada pak Subchan. Aku berencana untuk pulang saja ke rumah mengambil berkas data penjualan. Kebetulan jarak rumahku dengan bandara tidaklah jauh. Paling hanya memakan waktu 15 menit. Praktis, pulang balik hanya perlu waktu 30 menit. Aku pikir cukup.

“ Kiri, pak !”

Aku segera keluar dari taxi, bergegas menuju rumahku . Tampak rumahku sepi. Tapi kulihat mobil istriku telah terparkir di garasi. Alunan lembut musik Raja sangat jelas terdengar di telingaku. Kucoba mengetuk pintu, tapi kuurungkan. Nampaknya pintu tak terkunci rapat. Sehingga mudah terbuka waktu tertekan tanganku.

Reflek, aku bergegas menuju kamarku. Terasa sekali aku sangat terburu-buru. Bahkan mungkin sedikit panik. Namun belum sampai masuk kamar tiba-tiba langkahku terhenti. Pintu kamarku sedikit terbuka. Kulihat pemandangan yang sangat menghentakkan jantungku.

“ Astagfirullah aladzim.”

Kulihat kedua istriku bergumul. Keduanya telanjang. Tanpa selembar kainpun yang menempel di tubuhnya.. Mereka saling pagut. Penuh nafsu. Sungguh pemandangan yang sangat menyakitkanku. Oh,.. Tiba-tiba dadaku terasa sakit. Napasku sesak, susah sekali bernapas. Pandanganku berkunang-kunang. Seketika gelap. Tubuhku lunglai. Dan…ahh….aku….. tak ingat apa-apa lagi….

Tabaria Baru, 26 Oktober 2008

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

One Response to “Istriku Pelabuhan Terakhirku”

  1. Can you message me with a few pointers about how you made your blog look this good, Id be appreciative!

Leave a Reply

logo
logo
Powered by WordPress | Designed by Elegant Themes