Kalau gede mau jadi apa, nak ?
Begitu kira-kira pertanyaan orang tua yang masih terngiang di telinga kita. Atau bahkan pertanyaan itu pula yang kita lontarkan ke anak-anak kita. Lalu apa kira-kira jawaban dari pertanyaan itu. Saya yakin, masih sama saja dari dulu.
“ Mau jadi insinyur, Pa “
“ Mau jadi presiden, Ma “
“ Mau jadi polisi! ”
“ Madu jadi tentara! ”
“ Mau jadi guru .”
Rasanya kita tidak puas bila anak belum/ tidk bisa memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Mungkin juga, begitu perasaan orang tua kita dulu. Namun kalaupun pertanyaan tersebut dijawab, lalau apa tanggapan kita. Paling-paling hanya tersenyum. Puas. Bangga, karena merasa bahwa anak kita sudah punya arah – tujuan hidup. Meskipun dalam perjalanan waktu cita-cita tersebut bisa saja berubah. Atau malah berbalik arah. Kalau yang demikianpun akhirnya terjadi maka kitapun tidak pernah menjadikannya masalah.
“ Dulu, apakah orang tua Anda pernah menanyakan hal serupa kepada Anda ? ”
“ Ya.”
“ Lalu jawaban Anda ? “
“ Mau jadi dokter. “
“ Sekarang Anda jadi apa ?”
“ Dokter. “
“ Tercapai dong cita-citanya ?”
“ Ya, Alhamdulillah. Berkat doa orang tua. “
“ Jadi sudah selesai dong hidupnya. “
“ Maksudnya ?”
“ Kan sudah tercapai cita-cita/ tujuan hidupnya. “
“ Maksudnya ?”
“ emang, kalau sudah jadi dokter mau apa lagi? “
“ Ya, menolong orang.”
“ Kalau sudah menolong orang mau apa ?”
“ Ya, supaya orang sehat.”
“ Kalau orang-orang sudah sehat mau apa ?”
Saya yakin, bila pertanyaan tersebut dituruti maka akan berlanjut dan tidak akan ada habisnya. Sampai pada akhirnya kita sendiri tidak tahu harus berbuat apa lagi. Tidak tahu harus menjawab apa lagi. Kenapa begitu ?
Ya, karena apa yang disampaikan sebagai cita-cita/ tujuan hidup terebut tidak memiliki akar yang kuat. Semua itu merupakan hasil dari buah pikiran kita. Sementara pikiran sangat rentan dipengaruhi oleh apa yang secara indrawi bisa dirasa atau dilihat. Jadi apa yang disampaikan di atas hanyalah reka-reka pikiran, sebagai bagian dari keinginan / hasrat hidup. Melihat orang lain enak jadi dokter maka pengin juga jadi dokter. supaya hidup kita juga enak. Sekali lagi itu hanyalah keinginan, bukan tujuan hidup. Keinginan bisa banyak dan bermacam-macam. Sedangkan tujuan hidup itu mutlak hanya satu. Apa itu ?
Untuk menjawab pertanyaan itu, bagaimana kalau pertanyaan di atas kita detailkan.
“ Kenapa Anda pengin jadi dokter ? “
“ Ya, supaya bisa menolong orang. “
“ Kalau mau menolong kan tidak mesti harus jadi dokter ? “
“ Ya, tapi kelihatannya jadi dokter kan enak “
“ Maksudnya bagaimana ?”
” Biasanya dokter itu kaya. Bermobil. Bergengsi di masyarakat, dan banyaklah manfaatnya….”
” Ooo..”
Maaf, gambaran yang saya sampaikan di sini tidaklah bermaksud untuk mendiskriditkan profesi dokter. Janganlah berpikir bahwa saya beranggapan seolah-olah profesi dokter hanyalah mengejar materi, samasekali bukan begitu. Gambaran ini saya maksudkan sebagai upaya terstruktur agar kita bisa memahami secara nyata apa yang dimaksud dengan tujuan hidup maupun keinginan hidup. Dengan memahami dua hal ini maka diharapkan kita tidak salah langkah dan bersikap dalam menjalani proses kehidupan ini. Bahkan Insya Allah akan memberikan warna terhadap hidup kita agar lebih bermakna.
Jadi, kalau memang demikian apa dong tujuan hidup sebenarnya ?
Cita-cita setiap orang bolehlah berbeda. Mau jadi dokter, silahkan. Ada yang mau jadi presiden, silahkan. Semua itu sah-sah saja. Tidak ada yang bisa melarang orang bercita-cita. Apapun boleh dicita-citakan, sesuai persepsi dan harapan masing-masing. Tentu saja cita-cita/ keinginan tersebut tidak boleh merugikan orang lain, Setuju ?
Sementara itu kalau kita bicara tujuan hidup harusnya tidak berbeda. Karena apa ? Semua manusia diciptakan dengan visi dan misi yang sama. Sebagaimana Allah pernah menyampaikan pada saat penciptaan manusia. Allah ingin manusia sebagai khalifah dimuka bumi. Untuk memakmurkan bumi. Artinya, setiap manusia harusnya punya tujuan hidup yang sama. Jadi tidak perlu berpikir, mencari-cari tujuan hidup sendiri..
Tujuan hidup manusia telah ditetapkan oleh Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagaimana dinyatakan dalam surat Adz-Dzariat, ayat 56:
“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku .”.
Itulah tujuan hidup yang sebenarnya. Sebagai manusia kita telah diarahkan oleh Allah untuk beribadah kepadanya. Itu yang harus benar-benar disadari oleh kita semua. Namun nampaknya banyak dari kita hanya mengenal hal tersebut sebagai pengetahuan saja. Artinya, tahu kalau diingatkan, namun tidak pernah meresapi/ mengendapkan makna tujuan tersebut di dalam hati. Sehingga dalam hidupnya selalu bermain-main dengan keinginan. Sementara keinginan hanya akan membangkitkan dan memperpesar nafsu yang pada akhirnya akan menutupi hati.
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.